Sebelum awal tertidur, kita dipertemukan di dermaga kala langit jingga akan ditinggal surya. Ini adalah pertemuan di tengah sibuknya dirimu mendengar hentakan air.
Perasaan malu, dan gugup tibaku. Harus memilih apa yang mesti terucap jika berdiri di sampingmu. Di susunan kayu awal dekat pantai, aku memikirkanmu. Sedang di ujung senja dermaga, duduk serta tersenyum menikmati pergantian waktu.
Langkah perlahan, mulai mendekat. Mungkin juga kamu sudah mengetahui kedatanganku. Dari decit kayu yang diinjak. Kedua tangan yang biasa bergerak saat suasana seperti ini sembunyi di saku jaket. Sementara ini, gugupku tersimpan.
Untukmu yang berhijab, aku menyapa akan alasanmu ada disini. Tak perlu menoleh ke belakang untuk menjawab, cukup bicara. Tak berani jika aku bergerak lagi dan menempatkan diri di sampingmu.
Kamu berkata tentang indahnya momen, hatiku berkata untuk hanya menambahkan kata-katamu.
"Indah saja," ungkapmu.
"Terlebih ada kamu!" ungkap hatiku.
"Meski banyak hal di siang yang tak terjadi di malam, malam juga memiliki masanya yang tak bisa dimiliki siang." ucapmu.
"Meski banyak hal yang ada di orang lain tidak berada padaku, padaku juga memiliki hal yang tak dimiliki orang lain." ungkap hatiku.
Kembali kamu berucap, "Ada kesamaan, tapi mungkin berbeda rasanya. Pada logikanya mereka tidak menyatu, tapi hanya saling bertemu di senja dan fajar. Tiap kali akan berbintang, atau bermatahari."
"Al-mulk berkata mereka berpasangan. Logikanya mereka berada di posisi berbeda, memutar dari sempurnanya penciptaan. Transisi senja dan fajar bersamaan terjadi, sebagian bumi akan gelap, dan sisanya akan terang." Ungkapku tenang jelas di lisan.
Aish, sudah ku bilang jangan melihatku, apalagi dengan kau melihatku sembari tersenyum itu. Mengangkat kepala untuk melihat seorang pemalu di belakang ragamu. sedang aku berdiri dengan keadaan seperti tadi. Meski dapat dihitung detiknya, kamu kembali melihat matahari tenggelam bersama duduk nyamanmu serta ayunan sepasang kaki juga tangan tegak menyentuh kayu dermaga.
"Kamu indah," ungkapku. Tentu saja di dalam hati. Mana berani.
Kemudian tanyamu muncul, akan alasan aku datang ke tempat ini. Dapat ditebak jawabnya, sungguh tak beralasan. Kecuali hanya becerita kronologis bahwa melihatmu sendiri lalu ku datangi.
Jingga di beberapa putaran detik hampir usai, juga sunrise di bagian bumi lain. Pertanyaanku menyeruak.
"Mana yang paling kamu sukai?"
"Mana saja jika di dalamnya banyak sekali hal baik untukku. Aku mencoba untuk tak menunggui waktu."
"Bagaimana di matamu?" tanyanya setelah mengisi tanya.
"Terlebih dahulu sudah terjawab."
Kemudian, "Kita juga berpasangan, kan?" ujarnya.
"Meski perempuan dan laki-laki berbeda, pasti ada pertemuan di perbedaannya." lanjutnya.
"Aku tau kau membicarakan konteks saling berpasangan disana, bukan hal-hal lain. Semoga kelak, kita menemui pertemuan di antara kita." hatiku (lagi).
Pukul 01.05, mimpi sebelum tidur. Sekali lagi aku berkata, awal sebelum tertidur. Kita bertemu di dermaga.
Perasaan malu, dan gugup tibaku. Harus memilih apa yang mesti terucap jika berdiri di sampingmu. Di susunan kayu awal dekat pantai, aku memikirkanmu. Sedang di ujung senja dermaga, duduk serta tersenyum menikmati pergantian waktu.
Langkah perlahan, mulai mendekat. Mungkin juga kamu sudah mengetahui kedatanganku. Dari decit kayu yang diinjak. Kedua tangan yang biasa bergerak saat suasana seperti ini sembunyi di saku jaket. Sementara ini, gugupku tersimpan.
Untukmu yang berhijab, aku menyapa akan alasanmu ada disini. Tak perlu menoleh ke belakang untuk menjawab, cukup bicara. Tak berani jika aku bergerak lagi dan menempatkan diri di sampingmu.
Kamu berkata tentang indahnya momen, hatiku berkata untuk hanya menambahkan kata-katamu.
"Indah saja," ungkapmu.
"Terlebih ada kamu!" ungkap hatiku.
"Meski banyak hal di siang yang tak terjadi di malam, malam juga memiliki masanya yang tak bisa dimiliki siang." ucapmu.
"Meski banyak hal yang ada di orang lain tidak berada padaku, padaku juga memiliki hal yang tak dimiliki orang lain." ungkap hatiku.
Kembali kamu berucap, "Ada kesamaan, tapi mungkin berbeda rasanya. Pada logikanya mereka tidak menyatu, tapi hanya saling bertemu di senja dan fajar. Tiap kali akan berbintang, atau bermatahari."
"Al-mulk berkata mereka berpasangan. Logikanya mereka berada di posisi berbeda, memutar dari sempurnanya penciptaan. Transisi senja dan fajar bersamaan terjadi, sebagian bumi akan gelap, dan sisanya akan terang." Ungkapku tenang jelas di lisan.
Aish, sudah ku bilang jangan melihatku, apalagi dengan kau melihatku sembari tersenyum itu. Mengangkat kepala untuk melihat seorang pemalu di belakang ragamu. sedang aku berdiri dengan keadaan seperti tadi. Meski dapat dihitung detiknya, kamu kembali melihat matahari tenggelam bersama duduk nyamanmu serta ayunan sepasang kaki juga tangan tegak menyentuh kayu dermaga.
![]() |
| @afishurulloh / Gambar luar biasa dari Canva yang ditulisi. |
"Kamu indah," ungkapku. Tentu saja di dalam hati. Mana berani.
Kemudian tanyamu muncul, akan alasan aku datang ke tempat ini. Dapat ditebak jawabnya, sungguh tak beralasan. Kecuali hanya becerita kronologis bahwa melihatmu sendiri lalu ku datangi.
Jingga di beberapa putaran detik hampir usai, juga sunrise di bagian bumi lain. Pertanyaanku menyeruak.
"Mana yang paling kamu sukai?"
"Mana saja jika di dalamnya banyak sekali hal baik untukku. Aku mencoba untuk tak menunggui waktu."
"Bagaimana di matamu?" tanyanya setelah mengisi tanya.
"Terlebih dahulu sudah terjawab."
Kemudian, "Kita juga berpasangan, kan?" ujarnya.
"Meski perempuan dan laki-laki berbeda, pasti ada pertemuan di perbedaannya." lanjutnya.
"Aku tau kau membicarakan konteks saling berpasangan disana, bukan hal-hal lain. Semoga kelak, kita menemui pertemuan di antara kita." hatiku (lagi).
Pukul 01.05, mimpi sebelum tidur. Sekali lagi aku berkata, awal sebelum tertidur. Kita bertemu di dermaga.

Selalu suka!
BalasHapusRangkaian kata demi kata yang digunakaaan.. Subhanallah :D
Bikin baper dan gemes gitu A ^^
Can't wait for your next words..
Ini gila :D Dasar dreamer!
BalasHapus