Langsung ke konten utama

Menyaksikan Perpindahan

Sebelum awal tertidur, kita dipertemukan di dermaga kala langit jingga akan ditinggal surya. Ini adalah pertemuan di tengah sibuknya dirimu mendengar hentakan air.
Perasaan malu, dan gugup tibaku. Harus memilih apa yang mesti terucap jika berdiri di sampingmu. Di susunan kayu awal dekat pantai, aku memikirkanmu. Sedang di ujung senja dermaga, duduk serta tersenyum menikmati pergantian waktu.

Langkah perlahan, mulai mendekat. Mungkin juga kamu sudah mengetahui kedatanganku. Dari decit kayu yang diinjak. Kedua tangan yang biasa bergerak saat suasana seperti ini sembunyi di saku jaket. Sementara ini, gugupku tersimpan.

Untukmu yang berhijab, aku menyapa akan alasanmu ada disini. Tak perlu menoleh ke belakang untuk menjawab, cukup bicara. Tak berani jika aku bergerak lagi dan menempatkan diri di sampingmu.

Kamu berkata tentang indahnya momen, hatiku berkata untuk hanya menambahkan kata-katamu.

"Indah saja," ungkapmu.

"Terlebih ada kamu!" ungkap hatiku.

"Meski banyak hal di siang yang tak terjadi di malam, malam juga memiliki masanya yang tak bisa dimiliki siang." ucapmu.

"Meski banyak hal yang ada di orang lain tidak berada padaku, padaku juga memiliki hal yang tak dimiliki orang lain." ungkap hatiku.

Kembali kamu berucap, "Ada kesamaan, tapi mungkin berbeda rasanya. Pada logikanya mereka tidak menyatu, tapi hanya saling bertemu di senja dan fajar. Tiap kali akan berbintang, atau bermatahari."

"Al-mulk berkata mereka berpasangan. Logikanya mereka berada di posisi berbeda, memutar dari sempurnanya penciptaan. Transisi senja dan fajar bersamaan terjadi, sebagian bumi akan gelap, dan sisanya akan terang." Ungkapku tenang jelas di lisan.

Aish, sudah ku bilang jangan melihatku, apalagi dengan kau melihatku sembari tersenyum itu. Mengangkat kepala untuk melihat seorang pemalu di belakang ragamu. sedang aku berdiri dengan keadaan seperti tadi. Meski dapat dihitung detiknya, kamu kembali melihat matahari tenggelam bersama duduk nyamanmu serta ayunan sepasang kaki juga tangan tegak menyentuh kayu dermaga.



@afishurulloh / Gambar luar biasa dari Canva yang ditulisi.


"Kamu indah," ungkapku. Tentu saja di dalam hati. Mana berani.

Kemudian tanyamu muncul, akan alasan aku datang ke tempat ini. Dapat ditebak jawabnya, sungguh tak beralasan. Kecuali hanya becerita kronologis bahwa melihatmu sendiri lalu ku datangi.

Jingga di beberapa putaran detik hampir usai, juga sunrise di bagian bumi lain. Pertanyaanku menyeruak.

"Mana yang paling kamu sukai?"

"Mana saja jika di dalamnya banyak sekali hal baik untukku. Aku mencoba untuk tak menunggui waktu."

"Bagaimana di matamu?" tanyanya setelah mengisi tanya.

"Terlebih dahulu sudah terjawab."

Kemudian, "Kita juga berpasangan, kan?" ujarnya.

"Meski perempuan dan laki-laki berbeda, pasti ada pertemuan di perbedaannya." lanjutnya.

"Aku tau kau membicarakan konteks saling berpasangan disana, bukan hal-hal lain. Semoga kelak, kita menemui pertemuan di antara kita." hatiku (lagi).

Pukul 01.05, mimpi sebelum tidur. Sekali lagi aku berkata, awal sebelum tertidur. Kita bertemu di dermaga.

Komentar

  1. Selalu suka!
    Rangkaian kata demi kata yang digunakaaan.. Subhanallah :D
    Bikin baper dan gemes gitu A ^^

    Can't wait for your next words..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita

Blog ini udah lama mati. Gue bilang ke semua orang yang mungkin nanya ke gue kenapa berhenti nulis, karena ngerasa api nulis gue udah padam di bidang ini. Gue gak punya banyak diksi bagus. Gak punya kemampuan nulis sesuai kaidah-kaidah kebahasaan, dan gak tau segala tata cara menulis dengan baik dan benar. Tapi, gue butuh tempat cerita. Tempat dimana gue bisa menumpahkan apa yang ada di pikiran gue. Tempat dimana gue bisa banyak mencurahkan isi hati dan isi kepala yang suatu saat, kalo gue udah gak ada. Ada orang yang nemuin ini dan tau kalo gue juga gak selalu ceria dan gak selalu baik-baik saja. Ditulisan ini pun banyak kata gue. Gue pake karena biar berasa meledak-ledak aja. Ketimbang pake kata saya yang terlalu formal, aku yang terlalu lebut. Pengulangan kata orang pertama ini bakal terus berulang. Gue tau, gue pernah baca, tulisan yang banyak kata gue, aku, dll itu membosankan, overused dan lain-lain. Tapi kembali ke rencana awal gue. Gue butuh tempat buat melampiaskan apa yang ad...

#EpisodeMelek "CTRL+S"

Anak kecil yang dulu sering aku jailin, sekarang udah tumbuh jadi anak kelas enam SD yang ngomong-ngomongin rencana masuk SMP. Dulu aku sering ketemu  di tempat rental PS. Dan dia pasti  minta tolong kodein permainan GTA San Andreas. Kalo kamu gak tau permainan GTA, kamu bisa searching di mesin pencari. Kalo kamu tau, jangan sombong! Dia selalu bilang, “A… Aa… (Panggilan kakak dalam Bahasa Sunda) kodein polisi takut dong!” Lha… masa polisi takut sama yang ngelanggar, sih! Pake dikodein lagi :D Kalo dia udah menyodorkan joystick, ini adalah kesempatan buat  jailin dia. Aku kodein polisi bintang 6 di permainan ini, jadi semua polisi akan menyerang dan menangkap karakter Carl secara profesional. Bahkan saat ada di gunung tertinggi pun, mereka selalu ngikutin. Kalo karakter kamu gak tertembak, ya paling di tangkap selama 30-45 detik. Lalu kamu bisa main kayak biasa lagi. Ya, jailin anak kecil dan liat mukanya begitu panik sampel ngomel-ngomel “Atuh A… Atu...

Tidak Tau

Kalo kamu baca ini, ketikan ini aku lakukan setelah menonton film korea. Ditto. Kisahnya, tentang merelakan cinta pertama. Karena  Kim Yong tau di masa depan, bukan dia yang jadi pasangannya. Ketikanku gak sebagus dulu, atau memang tidak pernah bagus. Aku hanya ingin bercerita tentang perasaanku saat ini. Ramadan ke 4, sebelum sahur. 1444 H. Hari ini, 27 Maret hari Senin di 2023. Aku hancur ya? halo, aku di masa depan? kamu baik-baik aja? kamu harus ingat diri kamu sedang berkaca-kaca saat menulis ini. Kamu mungkin bisa saja seperti Kim, meski merelakan cintanya kamu. Halo, aku di masa depan? Bagaimana kabarmu? bagaimana juga dengan seseorang yang kamu cintai? dia sudah bersuami? apa itu kamu? atau orang lain? Kamu, sedang mengerjakan apa? sibuk kah? atau kamu pura-pura sibuk? Menonton film ini, bikin lo lumayan patah hati. Ngeliat keadaan gue yang sekarang, gue gak yakin kalo cintanya kita di masa depan itu Dia. Lo gak punya disiplin, lo gak punya sesuatu buat dibanggain...