~Sebenarnya udah agak lama gue menyimpan ini.
Alasannya simple, nunggu waktu yang tepat buat ngungkapin apa yang gue rasakan.
Kurang lebih udah 11 tahun gue mengenyam pendidikan,
kadang gue mikir gak kerasa banget waktu yang udah gue tempuh. Dari beberapa
hal yang gue tanyakan, “apa gue layak terus terusan mengganti angka romawi di
sampul buku mata pelajaran gue??”. Dimulai dari huruf I, sampe sekarang huruf
XI.
“Apa sih yang gue dapet??” Ya, itulah pertanyaannya.
Yang gue rasa ‘nyindir’ pikiran gue, yang juga lagi nanya “Layak kah gue sampe
saat ini??”
Pernah gak malem-malem sekitar jam dua belas, miring
dikit jarum panjangnya. ( Okelah dini hari ) ngitung berapa banyak temen kita
selama kita bersekolah?? Mungkin diantara kita pernah ada yang kayak gitu.
Misalkan di TK punya temen 20, sekelas. Belum yang gak sekelasnya. Terus di
Sekolah dasar yang sekelas sekitar 40, belum yang gak sekelasnya. Terus Sekolah
Menengah yang sekelas jumlahnya sekian, belum seangkatan. Ya, gue kira ada
lah.. yang mikir-mikir kayak gitu.
Dan
belum tentu kita kenal semua orang itu, istilahnya ada yang tau wajah tak tau
nama. Benerkan kalo tau belum tentu kenal??
Jujur, gue dapet banyak temen dari tips yang namanya
sok kenal sok dekat. Ya, gampang banget cara ini. Tinggal punya keberanian dan
sedikit nahan malu. ( Tapi gak juga sih ) Perakteknya gak rumit, cuma nimbrung
di sekelompok orang yang ngobrol. Dan akan lebih lancar lagi kalo di kelompok
‘diskusi’ itu ada temen kita, minimal satu aja.. Mungkin di kepala orang orang
itu “Apaan sih nih orang?” atau “GJ Banget”.
Tapi kalo ditelaah secara bijak, kita akan dapet
satu titik temu yang menyatakan bahwa temenan itu bisa dilakuin dengan berbagai
cara kok, asalakan gak temenan dalam hal negatif. Orang mau bilang gak jelas
itu cuma opini, padahal kan jelas-jelas dia yang nimbrung pengen dapet temen.
Emang enak kalo posisimu jadi orang yang gak “diajak”??
Misalkan ada 5 orang
yang ngobrol, terus salah satu dari mereka diabaikan. Dan kamu berada diposisi
terabaikan. Cuma bisa jadi pendengar, itupun kalo mereka ngobrolin tema yang
bener bener manfaat. Gak sedikit juga kan orang yang ngobrolin apa yang
seharusnya gak diobrolin?. ( Tapi kayaknya gak mungkin deh bisa bayangin kalo kamu
ada di posisi itu, kecuali kamu pernah ngalaminnya )
Nah, dari banyaknya orang yang udah jadi temen. Kita
jadi tau hal-hal yang baru, dari cerita mereka, pengetahuan mereka, pengalaman
mereka, lingkungan mereka. Semakin deket sama temen kita makin tau sifatnya
seperti apa. Bahkan ada yang merencanakan ‘Harus Apa dan Bagaimana’ kalo ketemu
temen. Ada banyak tipe temen diantara kita, dari yang biasa-biasa aja, sampe
yang bener-bener deket banget.. Saking deketnya statusnya naik jadi sahabat,
atau.. bisa juga hubungan tanpa status.
Ada juga temen yang bertransformasi jadi pengagum
rahasiamu, stalk sosial mediamu, terus nge-chat. Dichatnya bilang “Aku pengagum
rahasiamu” (Kalo di kasih tau jadi gak rahasia). Ada lagi temen yang pendiem,
pas ditanya Cuma jawab satu kata. “Udah beres tugasnya?” jawabnya “Udah.”
(Bilang udah dengan tampang polos) terus hening.
Temen juga menghasilkan beberapa reaksi dari diri
kita. Ada yang keadaan temen dibawah kita, maka kita dapat bersyukur atas apa
yang menjadikan kita lebih baik. Lebih keren dari itu kita bisa bantu dia
dengan apa yang kita bisa. Ada juga temen yang keadaan pengetahuannya, atau
sosialnya lebih tinggi. Buat kita termotivasi untuk melakukan hal yang sama
seperti dia. Gak sombong sama apa yang kita bisa, sebab ada orang yang lebih
lagi dari kita.
Bagi gue temen bakal terus ngasih sesuatu yang gak
kita sadari, paling tidak saat dia kita minta untuk menjadi teman ngobrol. Dia
telah membunuh rasa sepi diri kita sendiri. Temen juga bakal terus ada di
setiap perjalanan kita, bahkan ada banyak juga temen yang berpengaruh besar
buat kehidupan kita. Mendorong kita untuk bisa, menemani kita untuk bisa, dan
membantumu untuk bisa.
Ada
orang yang bilang “Temen itu ada ketika mereka butuh” ( Ya iyalah.. ) Mereka
yang datang karena mereka butuh yang namanya “teman”, dan saat kamu yang ia
datangi, berarti kamu udah dianggap sebagai temen dia. Ungkapan itu disambung
dengan “… Ketika kita terluka mereka tidak ada”.
Menurut gue temen juga punya
kesibukan, jadi gak sepenuhnya dia selalu ada buat kita. Ungkapan “Temen itu
ada ketika mereka butuh dan ketika kita terluka mereka tidak ada”. Biasanya diungkapkan oleh remaja yang patah
hati. Dia yang patah hati butuh temen buat curhat. Ngeluarin apa yang jadi rasa
sakitnya dia.
Kadang dari sudut pandang yang lain, menurut gue
luka itu kita yang ngerasainnya, dan luka datang terkadang karena kita yang
menyebabkannya. Dalam kata lain kenapa harus mengadakan temen? Mungkin
jawabannya sederhana, jika kita menceritakan luka siapa tau temen bisa
menyelesaikannya. ( Oke, jika lukanya bukan karena cinta remaja ) Ungkapan itu
akan berbeda makna tergantung dimana posisi kita. Apa kita jadi yang butuh,
atau kita sebagai yang terluka. Dan bagaimana jika kita yang butuh dan orang
lain yang sedang terluka. Apa sikap kita akan sama??
Ungkapan diatas juga ngasih indikasi “siapa sih
temen yang peduli sama kita” tapi satu ungkapan yang keren
“Ada berapa
banyak temanmu ?? akan kuhitung saat aku sedang terluka..”
Kenapa harus begitu?? Ada beberapa sudut pandang
tentang ungkapan diatas. Dan gue ngasih pandangan dari sisi lain gue, dan
pandangan tersebut ialah… “Kenapa sih harus se-egois itu??” Temen bukan berarti
mereka yang datang buat denger dan ikut menyembuhkan luka. Tapi saat kita lagi
seneng dan sebagainya temen juga ada. Dan satu hal yang ditekan bahwa temen
juga punya kehidupannya sendiri, gak selamanya ada buat kita. Bahkan dia akan
bilang kalo saat kita terluka “Bukan urusan gue” mungkin juga kan??, Intinya,
temen kita itu banyak, dan sifatnya juga berbeda-beda. Kita akan bilang mereka
egois saat kita butuh tapi mereka gak ada, dan bagaimana jika kita berada
disisi sebaliknya ( Kita disebut egois ).
Komentar
Posting Komentar