Sebelum awal tertidur, kita dipertemukan di dermaga kala langit jingga akan ditinggal surya. Ini adalah pertemuan di tengah sibuknya dirimu mendengar hentakan air. Perasaan malu, dan gugup tibaku. Harus memilih apa yang mesti terucap jika berdiri di sampingmu. Di susunan kayu awal dekat pantai, aku memikirkanmu. Sedang di ujung senja dermaga, duduk serta tersenyum menikmati pergantian waktu. Langkah perlahan, mulai mendekat. Mungkin juga kamu sudah mengetahui kedatanganku. Dari decit kayu yang diinjak. Kedua tangan yang biasa bergerak saat suasana seperti ini sembunyi di saku jaket. Sementara ini, gugupku tersimpan. Untukmu yang berhijab, aku menyapa akan alasanmu ada disini. Tak perlu menoleh ke belakang untuk menjawab, cukup bicara. Tak berani jika aku bergerak lagi dan menempatkan diri di sampingmu. Kamu berkata tentang indahnya momen, hatiku berkata untuk hanya menambahkan kata-katamu. "Indah saja," ungkapmu. "Terlebih ada kamu!" ungkap hatiku. ...
Deskripsi akan diisi dengan baik, setelah saya kembali menemukan apa itu tulisan, untuk apa ditulis, dan apa artinya segala hal yang saya lakukan. Saya masih bingung.